coronavirus tagged posts

Menilik Musabab Klorokuin & Pil Kina Disebut Obat Covid-19

Covid-19 atau penyakit pernapasan yang disebabkan oleh virus corona jenis baru, yakni SARS-CoV-2, tengah menjadi pandemi. Dunia kelabakan karena ketidak-siapan masing-masing terhadap “serangan tiba-tiba” tersebut. Karena covid-19 termasuk penyakit baru dan penyebabnya virus yang juga baru, belum tersedia obat atau vaksin untuk mengatasinya.

Mekanisme pembuatan obat atau vaksin memang terus digenjot, tetapi itu tidak mungkin diselesaikan dalam waktu dekat. Akhirnya, beberapa stakeholder terkait pun melakukan siasat dengan memanfaatkan obat lama yang dianggap cocok, melalui berbagai penelitian dan uji klinis tentunya, untuk mengatasi pandemi ini. Beberapa obat yang masuk ke dalam daftar adalah klorokuin dan pil kina.

Siasat itu digagas oleh organisasi kesehatan dunia, WHO, medio Maret kemarin. Melalui uji coba yang diberi tajuk “Solidarity”, WHO berharap di dalam daftar obat-obatan yang diuji coba itu terdapat setidaknya satu yang cocok dan dapat digunakan untuk mengatasi sementara covid-19. Klorokuin sebenarnya hampir tak masuk hitungan lantaran kurangnya data terkait obat satu ini.

Di Indonesia, sejak pengumuman yang disiarkan WHO tersebut, pemerintah langsung memutuskan untuk mendatangkan obat-obatan itu dalam jumlah yang besar. Mereka percaya sepenuhnya pada WHO, kendati belum ada uji coba klinis yang menguji relevansi klorokuin dan upaya mengobati Covid-19.

Namun, seorang profesor dari Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran, Bandung, Jawa Barat, Keri Lestari membeberkan sebab-sebab mengapa klorokuin dan pil kina akhirnya terseret ke dalam pusaran pengendalian virus corona ini.

Sebagaimana diberitakan Suara, Keri Lestari, mengungkapkan bahwa semuanya berawal dari kegagapan institusi kesehatan terhadap kedatangan virus corona ini secara tiba-tiba. “Menangani kondisi pandemik yang sangat darurat dan tiba-tiba ini tentu tidak bisa kita berharap pada obat baru. Memang idealnya kita mencari obat baru dengan cara riset, mulai dari in vitro, in vivo, uji praklinik, uji klinik. Tetapi dalam kondisi darurat itu tidak realistis. Penemuan obat baru itu memerlukan waktu tahunan, sampai dekade, barulah jadi itu obatnya,” katanya.

Keri melanjutkan, bahwa kondisi semacam ini lazim di dunia farmakologi untuk menggunakan obat lain untuk mengobati penyakit baru yang belum ditemukan obatnya. Langkah ini dikenal dengan metode reverse pharmacology, yaitu untuk senyawa-senyawa atau obat-obatan yang sudah ada, digunakan dengan konsep obat yang sudah ada, pasalnya itu sudah jelas aktivitas dan khasiatnya. Jadi dalam rangka mencari obat untuk pasien dalam kondisi pandemik ini, pijakan utamanya berpegang pada mutu obat dan keselamatan pasien.

Awalnya, WHO memasukkan beberapa jenis obat lain seperti obat HIV, Ebola, hingga Hepatitis C. Obat-obatan itu, termasuk klorokuin, memiliki senyawa obat yang dapat melawan klasifikasi genetika virus corona. Perlu diketahui bahwa HIV, Ebola, Hepatitis, dan Malaria yang dapat disembuhkan dengan klorokuin memiliki klasifikasi genetik yang sama dengan virus corona, yakni MRNA.

Akan tetapi, setelah dilakukan berbagai macam uji coba, obat yang paling mentereng adalah klorokuin tersebut. Klorokuin yang mengandung klorokuin fosfat berhasil melakukan penyembuhan dengan waktu yang lebih cepat. Dua negara yang melakukan uji coba itu adalah Tiongkok dan Amerika Serikat.

“Jadi dua center ini mempunyai irisan yang sama, yaitu klorokuin fosfat. Sehingga pilihan kita, Indonesia, yang memang baru terkena mengikuti center tersebut, (karena) mereka sudah langsung uji klinis. Hasil uji klinis merekalah yang menjadi evidence base kita untuk memilih obat untuk menangani kasus Covid-19 di Indonesia,” ujar Keri lagi.

Kendati klorokuin dan pil kina ini ‘bukan’ obat Covid-19 yang sebenar-benarnya, kemudian ini hanya bersifat sementara, tetapi semoga khasiat yang diberikan dapat maksimal dalam mengatasi pandemi Covid-19 yang telah menginfeksi hampir satu juta orang di lebih dari 200 negara di seluruh dunia hingga hari ini.

More