Category kesehatan mental

5 Fakta Bystander Effect yang Perlu Diketahui

Sudah menjadi pemandangan lumrah di Indonesia jika ada kecelakaan atau kemalangan menimpa seseorang di jalan, orang-orang akan berkerumunan untuk melihat kondisinya. Namun menyebalkannya, banyaknya orang yang berkerumunan berbanding terbalik dengan orang yang berani bertindak untuk memberikan pertolongan. Terkait hal ini jangan salah, praktiknya femonena yang dalam psikologi dikenal sebagai bystander effect ini bukan hanya marak di Indonesia, melainkan juga melingkupi dunia.

Bystander effect merupakan kondisi saat seseorang ragu memberikan bantuan untuk situasi darurat yang dialami oleh orang lain dan memilih sekadar menjadi pengamat. Persentase pilihan menjadi hanya pengamat pada situasi darurat akan semakin besar jika orang yang melihat kejadian yang sama semakin banyak.

Oleh para ahli psikologi, bystander effect dikategorikan sebagai kasus difusi tanggung jawab. Di mana orang-orang yang mengalaminya lebih percaya ada orang lain yang bisa memberikan bantuan selain dirinya. Berikut ini adalah beberapa fakta mengenai efek pengamat tersebut.

  1. Bemula dari Pembunuhan

Istilah bystander effect pertama kali dicetuskan oleh psikologi sosial Bibb Latané dan John Darley. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan kondisi yang terjadi kepada 38 saksi mata yang mendengar dan berada di dekat lokasi pembunuhan perempuan muda Kitty Genovese di New York. Dalam sebuah surat kabar lokal disebutkan bahwa para saksi tersebut mendengar bahkan ada yang melihat penyerangan terhadap Genovese, namun memutuskan tidak melakukan pertolongan, bahkan tidak melapor ke polisi.

  • Andalkan Saksi Lain

Efek pengamat ini muncul karena adanya pengandalan terhadap saksi lain yang melihat kejadian serupa. Ditemukan fakta bahwa semakin banyak orang yang melihat kondisi korban, maka semakin besar pula kesempatan bystander effect muncul. Situasi ini terjadi karena para pengamat tersebut lebih mengandalkan orang lain untuk memulai pertolongan terlebih dahulu. Inilah yang kemudian disebut sebagai difusi tanggung jawab.

  • Melekat di Situasi Ekstrem

Fenomena bystander effect nyatanya tidak hanya bergantung pada seberapa banyak saksi atau orang yang berkerumun di tempat kejadian korban. Lebih daripada itu, efek pengamat ini sangat dipengaruhi ekstrem tidaknya suatu kejadian. Semakin ekstrem suatu kejadian maka kemungkinan orang-orang akan terkena bystander effect akan semakin tinggi. Sebuah penelitian mengungkapkan, pada situasi darurat jika ada 4 pengamat di tempat kejadian, hanya ada satu pengamat yang mungkin akan memberikan pertolongan. Akan tetapi, persentase ia menolong juga minim, hanya 31 persen.

  • Menimpa Siapapun

Jangan cenderung langsung menyalahkan orang-orang yang terkena bystander effect karena tidak memberikan pertolongan pada korban. Nyatanya, Anda pun bisa menjadi orang yang terkena efek pengamat tersebut! Ini karena tiap orang di dunia memiliki masalah terkait difusi tanggung jawab ketika dihadapi oleh situasi ambigu ataupun banyaknya saksi mata.

  • Dua Penyebab Utama

Sebenarnya apa yang menjadi penyebab munculnya bystander effect? Menurut para ahli psilogi, setidaknya ada dua penyebab utama seseorang yang melihat suatu kejadian akhirnya hanya memilih menjadi pengamat. Pertama dikarenakan tidak adanya tekanan untuk mengambil tanggung jawab dikarenakan cukup banyaknya saksi lain. Lalu yang kedua adalah efek ikut-ikutan untuk mencari pembenaran. Ketika melihat saksi lain tidak bergerak, seseorang yang terkena bystander effect otomatis juga akan menunggu karena menganggap tindakannya untuk melakukan pertolongan belum tentu tepat.

***

Bystander effect jelas bukan suatu femonena yang baik sebab meminimalkan kemungkinan korban dalam keadaan darurat atau ekstrem untuk bisa tertolong. Karena itu, sangat dianjurkan agar ketika Anda berperan sebagai saksi mata, tidak usah pedulikan atau menunggu respons orang lain. Segera lakukan pertolongan jika bisa atau segera hubungi instansi terkait yang bisa memberikan bantuan.

More